anathapindhika mempunyai seorang anak laki-laki yang bandel dan tidak menghormat kepada Buddha,Dhamma, dan Sangha. Anathapindhika ingin membuatnya menjadi anak baik. Ia berjanji untuk memberikan anaknya seratus uang emas kalau anaknya mau melaksanakan sila di vihara selama sehari. Si anak datang ke vihara, duduk di pojok vihara tanpa memberikan hormat kepada para bhikkhu. Setelah pulang ia meminta hadiah yang dijanjikan ayahnya.
Hari berikutnya, Anathapindhika menjanjikan seribu uang emas kalau anaknya dapat mengingat khotbah Sang Buddha. Sang anak pun pergi ke vihara untuk mendengarkan khotbah Sang buddha. dengan kebijaksaan-Nya, Sang Buddha berkhotbah dengan cara sedemikian rupa sehingga bagaimana pun si anak itu memperhatikan, ia segera terlupa begitu kalimat berikutnya disampaikan.
Anak itu makin berusaha memusatkan perhatian agar dapat mengingat khotbah Sang Buddha. ketika Sang Buddha mengakhiri khotbah-Nya, melalui perhatiannya yang sungguh-sungguh anak itu mencapai kesucian. Ia tidak lagi menginginkan hadiah yang dijanjikan ayahnya.
Showing posts with label internet. Show all posts
Showing posts with label internet. Show all posts
Monday, October 4, 2010
Sunday, October 3, 2010
Makanan yang Tidak Habis-Habis
Seorang pandai emas dan isterinya menjamu Sang Buddha dan lima ratus siswa-Nya dengan kue yang mereka buat. Sang isteri menaruh kue itu di mangkuk Sang Buddha. Sang Buddha mengambil kue itu secukupnya, demikian pula lima ratus bhikkhu lainnya. Orang itu dan Isterinya memakan juga kue itu sebanyak mereka mau, tapi kue itu tidak habis- habis. Demikian juga ketika seluruh penghuni vihara dan orang-orang lain mengambil kue itu, tidak ada tanda-tanda kue itu akan habis.
Mereka memberitahukan Sang Buddha bahwa kue itu tidak habis-habis. Sang Buddha menyuruh mereka untuk melemparnya didekat gerbang vihara. Maka mereka pergi melemparnya di sebua tempat curam dekat gerbang vihara.
Subscribe to:
Posts (Atom)